Anggita Nurindah Kusuma

TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR =)

Jumat, 19 Juli 2013

7 CARA JITU MENULIS RESENSI BUKU


7 CARA JITU MENULIS RESENSI BUKU

Di media massa, entah itu surat kabar atau pun majalah, resensi sering diistilahkan bedah buku, timbangan buku, atau kajian buku. Resensi itu sendiri merupakan suatu tulisan yang bertujuan untuk memberikan pertimbangan atau penilaian tentang suatu buku yang baru diterbitkan kepada pembaca. Melalui resensi tersebut, para pembaca bisa mendapatkan suatu informasi, penting atau tidaknya suatu buku. Layak atau tidaknya dibaca untuk pembaca.
Seorang penulis resensi atau biasa disebut resentator akan memberi pertimbangan kepada pembaca secara seimbang, baik kelebihan maupun kekurangan suatu buku yang diresensinya.
Saya mencoba membagikan informasi yang penting khusus bagi saya, umumnya bagi sahabat semua, bagaimana menulis resensi buku secara tepat. Referensi dari buku yang berjudul “Belajar Efektif Bahasa Indonesia” terbitan Intimedia. Berikut 7 Tips Menulis Resensi Buku:
1. Cari dan tentukan buku baru nonfiksi yang akan kita resensi.
2. Catatlah identitas buku yang akan kita resensi, seperti jenis buku, judul buku, nama pengarang, nama penerbit, tahun terbit, tahun cetak, jumlah halaman, jenis kertas dan harga buku.
3. Catat dan pahami tujuan dan latar belakang penulisan buku, dengan cara membaca kata pengantar atau pendahuluan buku.
a) Apa tema atau inti isi buku?
b) Apa yang ingin disampaikan pengarang melalui bukunya? Pada bagian ini, kita dapat menyampaikannya menjadi ikhtisar buku.
4. Buatlah daftar pokok-pokok isi buku secara keseluruhan.
5. Tentukan kelebihan dan kekurangan isi buku, dengan memerhatikan hal-hal berikut:
a) Apakah ide-ide pokok yang diuraikan sesuai dengan tujuan penulisan buku?
b) Apakah pengungkapan ide-ide pokok dalam buku tersebut tersusun secara sistematik?
c) Apakah antara bagian satu dengan bagian lainnya tersusun secara harmonis?
d) Apakah bahasa yang digunakan penulis mudah dipahami? (pilihan kata, struktur kalimatnya, gaya bahasanya, dan lain-lain).
6. Reproduksi hasil catatan kita dalam bentuk tulisan resensi dengan menggunakan bahasa kita sendiri secara runtut dan jelas, dengan memperhatikan penulisan tanda baca yang benar.
7. Pada akhir resensi berilah saran dan kesimpulan, apakah buku yang kita resensi tersebut layak dibaca atau tidak.
Demikian 7 Tips Menulis Resensi, semoga bermanfaat.

Kamis, 18 Juli 2013

Lima Langkah Pemula Menulis Novel


LIMA LANGKAH PEMULA MENULIS NOVEL


Bagaimana cara pemula menulis buku novel, sehingga mendapatkan tempat yang layak seperti layaknya penulis profesional? Tidak banyak pemula bisa seperti itu, tanpa memiliki tips luar biasa yang memberikan semangat untuk terus menulis.
Ada empat langkah cara menulis buku bagi pemula yang ingin serius menjadi seorang calon penulis hebat. Semoga 4 langkah ini benar-benar bisa menghibur dan memberikan ruh baru dan memperkuat hasrat sahabat dalam menulis.
 
Cara pertama # Memiliki tempat penuangan ide
Lho, maksud tempat penuangan ide bagaimana?
Nah, maksudnya adalah jika kamu memiliki suatu inspirasi menulis. Tetapi tidak sedang berada di dekat komputer atau laptop, benda inilah yang dapat menggantikannya. Contoh yang dimaksud misal kertas dan pensil, notebook, atau benda lain yang biasa digunakan untuk menulis secara manual dan bisa dibawa sekaligus digunakan di mana saja.
Karena banyak penulis yang terkadang pikiran mereka terkoneksi langsung melalui pena di atas kertas.
 
Cara kedua # Mulai berpikir
Setelah kamu memiliki benda itu, saatnya untuk memulai momok paling menakutkan bagi semua penulis. Bagaimana mulai menulis di halaman pertama yang masih kosong. Gunakan halaman-halaman pertama untuk menciptakan gambaran cerita sahabat, termasuk garis besar, catatan tentang karakter (kemungkinan nama, deskripsi, cerita, dan lain-lain) tempat, dan termasuk hal-hal kecil yang masuk ke dalam cerita yang lebih besar. 
Ada beberapa keuntungan dengan membuat gambaran cerita yang akan ditulis. Ini akan memberi ide-ide baru untuk sebuah cerita sebagaimana yang sudah sahabat rencanakan. Dengan begitu, sahabat akan memiliki sesuatu ketika sedang kehabisan ide.
 
Cara ketiga # Buatlah garis besar naskah Buat garis besar tulisan. Hal ini akan membantu menentukan arah awal narasi, pengembangan plot dan karakter, pengaturan dari semua peristiwa yang mengarah ke konflik besar atau klimaks, kemudian resolusi dan berakhir.
Awal cerita mungkin merupakan bagian tersulit. Hal terbaik untuk mengatasinya, dengan memulai ide seluas mungkin. Katakanlah, sahabat ingin menulis sebuah novel misteri, dan Anda seorang penggemar dari Perang Dunia II. 
Tuliskan saja misalnya, fokus terhadap sesuatu yang misterius terjadi selama Perang Dunia II. Cobalah untuk fokus sedikit lebih. Apakah itu pribadi atau secara umum? Dalam perang ke II misalkan dengan menceritakan cerita pribadi kehidupan seorang tentara. 
Kapan itu terjadi? Perang Dunia II adalah jelas, jika seorang tentara Perang Dunia II yang melakukan ini atau itu. Ini adalah salah satu poin keputusan yang harus Anda ambil dengan segera.
Kembangkan karakter sahabat dengan jelas. Dalam hal ini, sahabat telah menciptakan dua karakter-pria muda dan kakeknya. Sahabat dapat menentukan karakteristik dari kedua hanya dengan pengaturan dan memperluas karakter Anda dalam proses. Kakek kemungkinan akan telah menikah, sehingga akan ada seorang nenek dalam gambar. 
Ada generasi antara kakek dan pemuda, sehingga akan menjadi orang tua yang juga putra kakek. Lihat betapa mudahnya itu?
 
Cara keempat # Melakukan pengeditan naskah
Mengedit tulisan biasa dilakukan setelah beberapa hari penulis mengendapkan naskah. Artinya, beberapa hari tersebut jangan digunakan untuk mengurus naskah novelmu. Jika sahabat menemukan plot tulisan ke mana-mana, dan tidak ada yang dapat dilakukan selain melakukan editing terhadap tulisan. Cerita sahabat tidak diharuskan untuk melakukan apa pun yang sahabat anggap sebagai garis besar tulisan.
Kadang-kadang, dalam sebuah cerita memiliki ide menulis yang lain. Di mana pun sahabat berada dalam proses, mesti mengisyaratkan untuk melakukan itu.
 
Cara kelima -> Istirahatlah yang cukup
Menulis membutuhkan energi yang sangat besar. Sebisa mungkin memiliki asupan yang cukup dan bergizi, selain bermanfaat pada kesehatan juga bermanfaat pada pemikiran. Tujuannya supaya otak lebih fresh sehingga bisa mendapatkan ide menarik, berbeda dari yang lain. Jangan biarkan perut lapar. Oh ya, agar kamu tidak terlalu lelah, kamu bisa memilih sesuatu yang kamu senangi sebagai teman menulis.
Dan seusai menulis naskah, kalian bisa mengirimkan ke salah satu penerbit yang kamu incar. Setelah itu, waktu menunggu keputusan penerbit bisa kalian gunakan untuk beristirahat secukupnya. Tapi bukan berarti tidak beraktifitas sama sekali lho ya.. :)

Sabtu, 25 Mei 2013

Lomba Menulis Antologi Cerpen “Kisah Cinta Remaja” (DL: 30 Juni 2013)


Lomba Menulis Antologi Cerpen “Kisah Cinta Remaja” (DL: 30 Juni 2013)

Syarat dan Ketentuan :
- Kompetisi ini terbuka untuk semua orang.
- Naskah asli, tidak menyadur dan belum pernah dipublikasikan di media apapun.
- Format penulisan: 5-10 halaman. Spasi 1,5, Times New Roman 12, A4. Margin 3-3-3-3. File: .doc atau .docx.
- Tema : Kisah Cinta Remaja
- Boleh mengirimkan naskah lebih dari satu. 
- EYD sangat diutamakan. Juga diharapkan agar cerita tidak klise.
- Tulis biodata di bawah naskah berupa:
· Nama Lengkap:
· Nama Pena (bila perlu):
· Facebook:
· Email:
· Alamat Lengkap:
· Nomer Telepon :
- Kirim naskahmu ke coauthorsind@gmail.com.
- Format subject email dan file: (JUDUL NASKAH) - (NAMA PESERTA)
- Naskah paling lambat diterima pada tanggal 30 Juni 2013 pukul 23:59 WIB.
- Kami akan memilih 15 naskah terbaik untuk diproses menuju penerbit Mayor. 
- Pengumuman pemenang pada tanggal 28 Juli 2013.
- Peserta diharapkan memfollow atau mengikuti blog Community of Authors Indonesian (coauthorsindo.blogspot.com), dan menyebarkan luaskan info seleksi ini.
- Masing-masing pemenang akan mendapat bukti terbit, dll.


Minggu, 19 Mei 2013

My Poetry (1)


Dua Wajah
Oleh: Anggitan K. (Anggita Nurindah Kusuma)


Aku memandang diri,
dalam sebuah cermin kilau
Menampakkan cahaya senyum
Seindah cahya purnama

Aku merasakan batin,
dalam hati yang berguming

Rasaku kini berbeda,
di antara dua wajah
Memasang senyum palsu,
meski hati sedang mendesah


Yogyakarta, 28 Maret 2013


Kamis, 09 Mei 2013

LOMBA BLOG OGB: Solusi Melawan Sakit Dengan "Khasiat Mujarab, Harga Bersahabat"


 Sakit ialah cobaan yang pasti bisa datang pada siapa saja, tanpa memandang derajat atau pun perbedaan seseorang. Jelasnya, siapa pun bisa mengalami rasa sakit. Hal inilah yang menyebabkan pemerintah harus menyediakan obat dengan harga terjangkau juga kualitas terjamin bagi seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Bentuk dari kepedulian ini yaitu diluncurkannya program Obat Generik Berlogo (OGB) pada tahun 1989. Selanjutnya, pada Tahun 1991 OGB diluncurkan untuk memenuhi kebutuhan obat masyarakat menengah ke bawah dengan mengacu kepada Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) untuk penyakit tertentu.
 Kebijakan pemerintah sejalan dengan Rational Use of Medicine (RUM) atau penggunaan obat rasional yang dikeluarkan oleh WHO, yakni:
“Pasien menerima pengobatan yang sesuai dengan kebutuhan klinis mereka, dalam dosis yang sesuai dengan kebutuhan individual, untuk jangka waktu yang sesuai dan dalam biaya terapi yang terendah bagi pasien maupun komunitas mereka”.
 Ini berarti, penggunaan obat rasional harus tepat pada segalanya, seperti contoh tepat pasien, tepat indikasi, tepat obat, tepat cara pemberian obat, dosis, frekuensi dan lama pemberian obat, serta tepat biaya. Semuanya terangkum menjadi sebuah obat berkualitas baik. Maka dari itulah, obat generik berlogo dapat dikatakan bermutu baik meskipun harga termasuk murah. Karena kualitas OGB tetap tidak kalah saing dengan obat paten, dan yang terpenting, obat ini aman untuk seluruh kalangan masyarakat.

 Selain itu, kualitas OGB terjamin sebab mengacu pada farmakope yang diterbitkan oleh Kementrian Kesehatan RI, atau farmakope-farmakope lainnya, seperti di Amerika Serikat (United States Pharmacopeia), Jepang (Japan Pharmacopeia), atau Inggris (British Pharmacopeia). Farmakope memuat persyaratan standar mutu obat dimulai dari bahan baku hingga obat jadi, sehingga apabila persyaratan di dalamnya terpenuhi, maka dikatakan obat tersebut bermutu baik. 
 Hanya perusahaan farmasi yang memenuhi syarat-syarat berikut yang boleh memproduksi OGB, yaitu:
1. Memiliki sertifikat COA (dokumen otentik yang dikeluarkan oleh pihak berwenang untuk menjamin kemurnian dan kualitas obat),
2. Memiliki sertifikat CPOB (Cara Pembuatan Obat Yang Baik-kualitas mesin pabrik harus terstandarisasi menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, BPOM RI)
3. Setelah diuji banding bioavailibitas /ketersediaan hayati dan bioekuivalensi/kesetaraan biologi dengan obat paten memberikan hasil yang setara. Uji bioavailabilitas dilakukan untuk mengetahui seberapa cepat kandungan zat aktif dalam obat tersebut diserap oleh darah menuju sistem peredaran tubuh, sedangkan uji bioekivalensi dilakukan untuk membandingkan profil bioavailabilitas dengan tiap bentuk obat yang tersedia; yaitu meliputi tablet, kapsul, sirup, dan sebagainya.
4. Pabrik obat menetapkan standar yang baik untuk produk yang diproduksinya,  seperti :  bahan baku obat yang digunakan harus memenuhi standar bahan baku obat di Amerika Serikat (USP) dan Eropa sehingga memiliki khasiat yang sama dengan obat paten. 
Perbedaan Obat Paten, Obat Generik Berlogo, dan Obat Generik Bermerek
1. Obat paten:
Obat paten adalah obat yang baru ditemukan berdasarkan riset dan memiliki masa hak paten yang tergantung dari jenis obatnya. Menurut UU No. 14 Tahun 2001 masa berlaku hak paten di Indonesia adalah 20 tahun. Selama masa itu, obat ini komposisinya tidak boleh ditiru serta tidak boleh dipasarkan oleh pihak lain, kecuali telah meminta izin serta membayar royalti kepada pemilik paten.
Contoh obat paten, obat generik berlogo dan obat generik bermerek:
Panadol itu contoh obat Paten (ditemukan pertama kali); Sanmol dan Pamol itu contoh obat generik bermerek, dan Parasetamol dengan logo generik adalah contoh obat generik berlogo.
Ciri-ciri obat paten:
Ø Obat keluar pertama kali (penemu), dengan masa paten 20 tahun
Ø Harga mahal: menanggung biaya riset dan biaya paten, kemasan menarik, biaya promosi tinggi, bahan baku tidak disubsidi pemerintah
Ø Harga tidak ditetapkan pemerintah
2. Obat Generik
Jika masa paten suatu obat telah habis, maka perusahaan farmasi lain bisa membuat obat serupa tanpa perlu membayar royalti.
Obat generik adalah :
· Obat dengan nama resmi Internasional Non Propietary Names (INN) yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia atau buku standar lainnya untuk zat berkhasiat yang dikandungnya.
· Obat jadi yang dipasarkan dengan nama generik atau dalam bentuk bahan baku (zat kimia) untuk racikan di apotik.
Obat generik ada 2, yaitu obat generik berlogo (obat generik/OGB) dan obat generik bermerek (obat bermerek).
Cara mengenali dan membedakan antara OGB dan Obat Bermerek cukup mudah, yaitu membandingkan antara nama dan jenis bahan aktif yang dikandungnya. Misalnya untuk salep dengan bahan aktif utama asiklovir 5%. Dalam tata nama OGB, nama salep tersebut sudah pasti harus ‘Acyclovir 5%’, sedangkan untuk OBM kandungan zat aktif tersebut akan dimodifikasi dan diberi merek, menjadi ‘Paraklovir’ atau Meaklovir’, sesuai dengan keinginan sang produsen obat.
Obat generik telah memenuhi syarat quality (mutu), efficacy (khasiat), safety (keamanan) obat, dan sebanding dengan obat paten/ bermerk. Pada obat generik dilakukan penekanan biaya produksi untuk menurunkan harga produk. Pada dasarnya komposisi antara obat paten dan obat generik sama, walaupun mungkin ada perbedaan sifat fisiko kimia zat aktif yang digunakan (bentuk kristal dan ukuran partikel). Apabila terdapat perbedaan formula (terkait bahan-bahan tambahan obat seperti zat pengental, pengawet, zat pengikat, dan lain-lain) dari kedua macam obat tersebut, hal ini tidak memberikan pengaruh terhadap mutu obat secara signifikan.
Obat generik sama dengan obat paten dalam hal ketersediaan hayati maupun efek terapinya, karena komponen utama, bentuk sediaan, dan cara penggunaannya sama. Keduanya mempunyai kekuatan dan konsentrasi yang identik, dan bekerja dalam tubuh dengan cara yang sama pula. Namun tentu saja ada perbedaan dalam bentuk, warna, aroma, kemasan dan zat pembantu lainnya. Pada umumnya hal tersebut tidak menimbulkan efek samping yang berbeda. Kalau terjadi kemungkinannya bisa disebabkan adanya perbedaan zat pembantu yang digunakan dan pasien menderita reaksi alergi terhadap zat tersebut. Demikian pula sebaliknya. Obat generik bermerek dapat mengurangi masalah, jika pasien alergi tehadap zat pembantu dari produk paten.
a. Obat Generik Berlogo
Ciri-ciri:
Ø  Mencantumkan nama generik, nama perusahaan, serta logo generik berupa bulatan dengan garis-garis hijau.
Filosofi Logo Generik :
· Bulat : kebulatan tekad untuk memanfaatkan obat generik.
· Garis tebal ke tipis : menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
· Warna hijau : obat telah lulus dari segala pengujian.
Ø  Obat keluar setelah masa paten habis
Ø  Harga terjangkau (murah)
Ø  Kendali HET (Harga Eceran Tertinggi) dilakukan oleh pemerintah.
Ø  Tidak dipromosikan besar-besaran (biaya promosi rendah)
Ø  Biaya produksi rendah: kemasan sangat sederhana, diproduksi dalam jumlah besar, bahan baku disubsidi pemerintah.
Ø  Tidak menanggung biaya riset dan biaya paten
Ø  Komponen utama sama dengan obat paten
b. Obat Generik Bermerek/Obat Bermerek
Ciri-ciri:
Ø  Mencantumkan nama generik, nama dagang/ merk produk dari perusahaan, dan nama perusahaan manufaktur.
Ø  Obat keluar setelah masa paten habis
Ø  Harganya hampir  sama / lebih murah sedikit dari obat paten.
Ø  Penetapan harga diserahkan sepenuhnya pada produsen obat dan mekanisme pasar.
Ø  Dipromosikan besar-besaran
Ø  Kemasan produk yang menawan
Ø  Tidak menanggung biaya riset dan biaya paten
Ø  Komponen utama sama dengan obat paten, hanya mungkin bahan pendukung bisa berbeda. Bahan pendukung ini bisa spesial, lebih dari obat generik berlogo sehingga menjadikan harganya lebih mahal. Biasanya ada juga bahan yang ditambahkan untuk mengurangi reaksi alergi tubuh terhadap zat aktif, walaupun bagi sebagian orang adanya bahan tambahan ini malah menyebabkan alergi.
Konsumsi Obat Generik di Kalangan Masyarakat Indonesia
 Masih banyak masyarakat yang memandang obat generik itu obat murahan, mutunya rendah, dan hanya diperuntukkan bagi orang-orang miskin. Mereka meyakini bahwa jika mengonsumsi obat generik penyakit mereka akan lama sembuhnya. Berbeda sekali dengan di negara maju, di sana penggunaan OGB sudah sangat tinggi. Di Amerika Serikat misalnya, telah mencapai hampir lebih dari 50%. Hal ini didukung oleh tingkat pengetahuan masyarakatnya yang tinggi akan obat-obatan, kesadaran dokter, kuatnya posisi pemerintah terhadap dokter dan industri farmasi, serta tersedianya sistem pembiayaan kesehatan.
Di Indonesia, pangsa pasar OGB di Market Share menurut Data dari Pusat Komunikasi Publik, Kemenkes, menunjukkan angka yang sangat rendah. Dimana, pada Tahun 2005 hanya sebesar 10,7% dan kemudian cenderung turun menjadi 7,2% pada Tahun 2009. Padahal, pasar obat nasional dalam kurun waktu tersebut mengalami peningkatan.
Ada banyak hal yang menjadi penyebab rendahnya konsumsi obat generik di masyarakat, yaitu:
1. Kurangnya informasi mengenai obat generik:
· Anggapan bahwa obat generik berkualitas buruk/lama sembuhnya
· Konsumen gengsi dan menganggap sebagai obat murahan/obat orang miskin
2. Terbatasnya jenis obat generik
3. Distribusi obat generik yang masih belum merata
4. Rendahnya pengetahuan pasien tentang obat generik itu sendiri. Sehingga pasien cenderung dan menerima begitu saja apa pun obat yang diberikan dokter atau rumah sakit tanpa bertanya lebih detil.
5. Harga obat generik yang masih dirasa mahal untuk sebagian kalangan
6. Kepasrahan pasien dan keluarganya terhadap resep yang diberikan dokter, tak peduli itu obat paten atau generik.
7. Keuntungan menjual obat paten lebih menjanjikan (kepentingan pribadi pihak-pihak tertentu: dokter, pemilik apotek, dsb)
8. Keraguan dokter: dokter bisa percaya dan berani meresepkan obat generik asalkan ada uji BA/BE yang hasilnya bagus dan dipublikasikan.
 Hal ini sangat disayangkan karena kebijakan OGB ini menguntungkan masyarakat dan pemerintah. Pasien dapat menghemat biaya pengobatan, sedangkan pemerintah dapat menghemat pengeluaran negara dalam jumlah besar. Penghematan tersebut tentu akan memberikan pengaruh positif bagi pemerintah dalam menjamin ketersediaan dan meratanya obat hingga ke berbagai daerah terpencil, tertinggal, rawan bencana, dan daerah perbatasan di seluruh wilayah Indonesia.
 Tahun 2014 pemerintah berencana menerapkan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Diharapkan pada tahun 2014 nanti, tenaga kesehatan dan masyarakat sudah menggunakan OGB, sehingga seluruh rakyat Indonesia dapat memperoleh jaminan kesehatan dari Pemerintah. Dari segi kesiapan sepertinya pemerintah telah siap. OGB yang awalnya hanya diproduksi oleh beberapa industri farmasi BUMN untuk memenuhi kebutuhan institusi kesehatan pemerintah kini telah merambah ke sektor swasta. Sejalan dengan itu, jenis dan jumlah OGB pun bertambah. OGB yang di awal peluncuran hanya beberapa jenis kini telah mencapai lebih dari 170 jenis. Obat-obatan ini terdiri atas berbagai bentuk mulai dari sirup, sirup kering/dry syrup, tablet, kaplet, tablet kapsul, hingga salep; dan obat-obatan ini telah tersedia untuk berbagai jenis penyakit. Apotek yang beroperasi mau tidak mau harus melangkapi persediaan OGB tersebut sejumlah item yang ada (sesuai aturan Depkes).
 Untuk mendukung hal itu dilakukanlah sosialisasi obat generik dengan cara-cara sebagai berikut.
Sosialisasi Obat Generik:
1 Menunjuk duta obat generik yang dapat turun ke masyarakat
2 Menggencarkan iklan obat generik di media elektronik, khususnya televisi.
3 Penyuluhan oleh pegawai instansi kesehatan (apotek, rumah sakit, puskesmas), tenaga medis, dan paramedis kepada masyarakat
4 Sosialisasi di berbagai tempat keramaian, misalnya mal, wilayah industri, perumahan elit, sekolah, hingga posyandu.
5 Sosialisasi terhadap sasaran primer: tenaga medis dan paramedis (dokter, dokter gigi, apoteker dan paramedis di sarana pelayanan kesehatan pemerintah dan apotek milik BUMN), pasien, dan semua lapisan masyarakat
6 Sosialisasi terhadap sasaran sekunder, yaitu pihak-pihak yang dapat mempengaruhi perilaku sasaran primer dalam penggunaan obat generik, seperti para pakar yang berpengaruh dalam bidang kedokteran, kedokteran gigi, farmasi, pendidik di lembaga pendidikan, tenaga kesehatan, tokoh organisasi profesi, dan tokoh masyarakat.
7 Sosialisasi terhadap sasaran tersier, yaitu kelompok pembuat keputusan penyelenggara pelayanan kesehatan
Setelah kita mengetahui informasi yang benar, lengkap dan jelas melalui sosialisasi, sudah saatnya kita menjadi konsumen cerdas. Dengan menjadi konsumen cerdas kita bersikap aktif juga kritis terhadap apa saja yang terjadi, karena itu semua demi kebaikan kita. Berikut ini adalah cara untuk menjadi konsumen cerdas.
Cara Konsumen Cerdas Memilih:
· Bila menerima resep dari dokter atau menebus resep di Apotik dan keberatan dengan harga obat yang terlalu mahal, diskusikan dengan dokter atau apoteker mengenai kemungkinan penggantian obat menjadi obat generik, khususnya Obat Generik Berlogo.
· Bila setelah menggunakan obat generik, pasien merasakan efek yang berbeda dibandingkan dengan obat lainnya yang biasa digunakan, pasien dapat memberitahukannya kepada dokter dan apoteker.
· Untuk mengambil keputusan yang tepat tentang penggantian obat paten menjadi obat generik, pasien tetap perlu berdiskusi dengan dokter dan apoteker, mengingat ada beberapa obat dengan sifat-sifat khusus yang membuatnya sulit diganti menjadi obat generik.
· Brosur untuk pasien menyediakan informasi penting tentang semua zat-zat dalam obat. Karena itu pasien penting untuk membaca brosur informasi bila memakai obat baru, dan bila mengganti obat dengan zat aktif yang sama dari suatu pabrik dengan pabrik lain.
 Nah, sekarang kalian telah mengetahui Obat Generik Berlogo kan? Dengan khasiat serupa namun harga lebih murah, mana yang akan dipilih? Obat Paten atau Obat Generik Berlogo? Butuh khasiatnya atau butuh mereknya? Pilihan bijak ada di tangan kalian. Untuk informasi lebih lanjut mengenai Obat Generik Berlogo, silakan saja kunjungi www.dexa-medica.com/ sesuka hatimu. Karena semua mengenai Obat Generik Berlogo ada di situ. Ibaratkan Dexa Medica adalah raja tentang permasalahan kesehatan.. :D
 Marilah kita mulai bersosialisasi mengenai Obat Generik Berlogo melalui jejaring media sosial, maupun media cetak. Bahkan, bisa pula melalui anugerah Tuhan Yang Maha Esa, yakni mulut.. :D
Sakit itu cobaan berat yang cukup menyiksa aktivitas keseharian. Maka, percayakan kesehatan pada Dexa Medica, percayakan permasalahan obat hanya pada Obat Generik Berlogo.. ;)